Sejarah singkat SOMAL

Politik lah yang menyebabkan SOMAL ini berdiri, lahirnya poros tengah yang membawa akibat yang menjurus kearah pemusnahan hak hidup bagi  organisasi yang tidak menjadi Onderbouw dari suatu partai atau golongan Nasakom.

Dominasi politik yang berdalih pada proses Nasakominasi dirasakan sebagai lubang yang tengah digali bagio organisasi mahasiswa local, sehingga setiap kekuasaan efektif dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh golongan – golongan yang mendominir PPMI pusat.

Salah satu kasus yang amat popular pada saat itu adalah gugatan PPMI dan MMI yang tidak menerima keputusan KOTRAR yang memberikan hak hidup kepada HMI

Selanjutnya PPMI Pusat membekukan PPMI Konsulat Bandung yang dianggap menyeleweng dari garis kebijaksanaan PPMI Pusat.

Faktor- factor diatas yang akhirnya menyebabkan beberaopa organisasi mahasiswa local di Bandung mulai merintis aktivitas bersama diantara organisasi local di Bandung yang kemudian diperluas dengan Jakarta. Akhirnya pada tanggal 26 April 1965 ditanda tanganilah suatu peringatan kerjasama antar organisasi local yang hadir pada saat itu :IMADA, IMABA, PMB, CSB, dan HMB. Tapi sayang HMB tidak turut menandatanganinya karena suatu alasan.

Selanjutnya tanggal 30 Juni 1965 dengan MMB sebagai tuan rumah di Bogor dilangsungkan pertemuan seluruh organisasi mahasiswa local di Indonesia untuk menindak lanjuti hasil yang sebelumnya. Sayang pertemuan yang dihadiri oleh : IMADA, IMABA, PMB, CSB, HMB, GMD, MMB dan GMS mengalami deadlock hingga beberapa pertemuan kedepan, karena GMD dan HMB mencurigai kerjasama organisasi local ini berbau BPS (Badan Pendukung Soekarno) yang pada saat itu sedeang giat di “ganyang” oleh PKI

Akhirnya tanpa dihadiri HMB dan GMD, seluruh pimpinan organisasi mahasiswa local lainya melanutkan pertemuannya disekretariat IMADA JL. Palem 45, Jakarta dan tepat pukul 03.00 tanggal 12 Juni 1965 lahirlah SOMAL (Sekretariat Organisasi MAhasiswa Lokal) dengan anggota : CSB, GMS, IMABA, IMADA, MMB, PMB.  Dengan sekjend yang pertama dari MMB

5 hari sebelum kejadian G 30 S/PKI, SOMAL mengadakan sidang pertamanya dengan isi menuntut PPMI melangsungkan kongres ke-5 nya yang tertunda 6 tahun dengan segala konsekwensinya serata menolak gugatan PPMI dan MMI yang tidak menerima keputusan KOTRAR yang memberikan hak hidup kepada HMI.

Pimpinan PPMI yang dilibatkan dalam kudeta berdarah oleh PKI, tidak dapat berbuat banyak karena tekanan PKI yang telah menguasai PPMI, karena hal itu SOMAL mendesak kepada Menteri PTIP Brigjend Sjarief Thajeb, agar kongres ke – 5 PPMI segera dilaksanakan dengan catatan apabila menteri tidak sanggup menyelenggarakan maka SOMAL akan mengambil alihpersoalan tersebut.

Maka pada tanggal 25 Oktober 1965 bertemulah seluruh organisasi itu, dan diputuskan membentuk suatu wadah persatuan mahasiswa Indonesia dengan nama KAMI, dimana SOMAL menjadi salah satu ketua presidium dan tiap – tiap anggota SOMAL merupakan anggota Presidium.

Tanggal 10 Januari 1966 dilangsungkan demonstrasi serentak seluruh Indonesia, sebagai tindak lanjut kongres tersebut atas kebijakan ekonomi yang ditempuh oleh rezim Soekarno, yang kemudian dikenal sebagai Hari Kebangkitan Angkatan 66 dengan TRITURAnya. Akhirnya Pemerintahan baru terwujud dibawah jendral Soeharto yang mengikut sertakan mahasiswa dalam lembaga legislative, dan merupakan titik tolak kelesuan KAMI yang mulai lepas dari ikatan semula.

Rapat kerja KAMI Pusat tanggal 2-6 Juni 1967 di Ciawi, Bogor, hanya melakukan evaluasi perjuangannya. Dari hal tersebut akhirnya muncul kecurigaan – kecurigaan atas individu pimpinan KAMI Pusat yang menjurus kearah vested interest, disamping pula kasus NUS (National Union of Indonesian Student) karena pada tanggal 18-25 Mei 1968, KAMI pusat memberikan mandate kepada dewan – dewan Mahasiswa UI, IPB dan IKIP Jakarta untuk mendampingi dalam menjajaki perwujudan NUS.

Masalah NUS ini rupanya tidak selicin seperti yang diharapkan, terbukti dengan makin memuncaknya pertentangan – pertentangan dalam tubuh KAMI sendiri yang memaksa SOMAL mengeluarkan memorandum pada tanggal 15 Desember 1968 sebagai ketukan hati kepada KAMI Pusat akan realisasi Raker Ciawi. Hal ini kemudian disusul dengan penarikan diri SOMAL sekda Bandung dari keanggotaan KAMI Konsulat Bandung yang diikuti oleh organisasi – organisasi lainnya.

Mengingat parahnya keadaan KAMI pusat, maka SOMAL mendesak diadakannya sidang KAMI Pusat, sayangnya siding yang berlangsung pada tanggal 11 – 13 Februari 1969 mengalami deadlock.

Karena consensus tidak tercapai, maka tanggal 14 Februari 1969 SOMAL menyatakan keluar dai keanggotan KAMI yang juga disusul dengan PMKRI.

Didalam pembinaan intern SOMAL, telah dilangsungkan sidang plenonya, yang selalu diadakan berbarengan dengan dies natalisnya :

  • Dies Natalis I SOMAL, tanggal 11-15 Juni 1966 di Bandung dan Jakarta
  • Dies Natalis II SOMAL, tanggal 10-12 Juni 1967 di Bogor
  • Dies Natalis III SOMAL, tanggal 24-26 juli 1968 di Jogjakarta
  • Dies Natalis IV SOMAL, tanggal 7-9 November 1969 di Bandung
  • Dies Natalis V SOMAL, tanggal 23-27 Juli 1970 di Ciloto – Puncak
  • Dies Natalis VI SOMAL, tanggal 24-30 Mei 1971 di Kaliurang – Jogjakarta
  • Dies Natalis VII SOMAL, tanggal 2-7 Agustus 1972 di Surabaya

Sidang paripurna SOMAL berturut – turut :

  • Ke – 1, tanggal 23-25 September 1965 di bandung

Hasilnya : terpilih Sekjend Ir. Surahmadi (MMB), sedangkan wakilnya Elyas (MMB)

  • Ke – 2 , tanggal 11-15 Juni 1966 di Bandung

Hasilnya : terpilihnya sekjend M. Romli Soulisa, SH (CSB), sedangkan wakilnya Micky J. R. (CSB)

  • Ke – 3, tanggal 20-22 Agustus 1967 di Jakarta

Hasilnya : terpilihnya Dr.  Marsilam Simanjutak (IMADA) sebagai Sekjend SOMAL

  • Ke – 4, tanggal 13-15 Desember 1968 di Bandung

Hasilnya : terpilihnya  Nuril Junus (PMB) sebagai sekjend SOMAL

  • Ke – 5, tanggal 7-9 November 1969 di Bandung

Hasilnya :

  • terpilihnya Sidik Purnomo (GMS), dan Didi Sunarwinardi (IMADA)
  • ditetapkannya IMAYO dan IMAPON menjadi anggota penuh SOMAL, yang sebelumnya menjadi anggota muda SOMAL
  • Ke – 6 , tanggal 6-8 November 1970 di Jogjakarta

Hasilnya : tidak ada pergantian sekjend

  • Ke – 7, tanggal 24-26 Mei 1971 di Kaliurang-Jogjakarta

Hasilnya : terpilihnya Ir. Lili Asdjudiredja (IMABA) sebagai sekjend, dan Chaidir Anwar Makarim (IMADA) sebagai wakilnya

  • Ke – 8, tanggal 2-5 Agustus 1972 di Murdjati-Lawang

Hasilnya : terpilihnya Husni T. Sabirin, SH (IMAYO) sebagai sekjend

Sekjend SOMAL lainnya :

  • ’73-’75 : alm. Syailendra Malik (CSB)
  • ’75-’76 : Azhar Hadi (IMADA)
  • ’76-’77 : Hari Santoso (GMS)
  • ‘77-‘79 : Ade Supriadi Anwar  (CSB)
  • ‘79-‘80 : George Edward Komuthoy “Chossie”  (IMADA)
  • ‘80-‘81 : Ir. M. Selim (GMS)

Dari anggota – anggota SOMAL yang ada untuk saat ini yang sudah bangkit adalah :

  • CSB
  • PMB
  • IMADA
  • GMS
  • IMAYO